Sabtu, 13 Agustus 2016

Merdeka dari Sindrom Minioritas

Pembacaan Injil

Matius 5
(13) "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

 

Saat ini masih ada sindrom minoritas.
Diantara yang masih ada itu, banyak yang berupa aksi penunjukkan identitas secara ekstrim sebagai pengikut Kristus. Sindrom minoritas dipahami sebagai suatu prilaku agresif karena posisi seseorang sebagai kaum minoritas. Seseorang yang merasa kecil atau memjadi bagian dari kaum minoritas jika mengalami tekanan yang luar biasa, kadang bertindak berlebihan dalam menunjukkan identitas bahkan berlaku agresif yang tidak substansial.

Matius pasal 5 dengan tegas mengatakan bahwa kita harus berani menunjukkan identitas kita sebagai umat Kristen. Di Samuel juga menegaskan hal yang sama tentang Daud dan Goliath.

Namun perlu diingat bahwa keberanian itu bukan asal, tanpa persiapan, dan tak berdasar.
Memperlihatkan atribut kekristenan, menegaskan diri sebagai orang kristen, memuji-muji Kristus di depan orang, dll tidak salah, tapi belum tentu benar, pahami situasinya, dan yang terlebih penting, tujuan apa yang ada di baliknya.


Ayat 16
Minoritas tak boleh menjadi seperti mayoritas, umumnya, kaum mayoritas banyak yang terjebak dengan omong tanpa kedalaman aksi. Biarlah kita menjadi minoritas yang berkualitas, sejati, bukan hanya abal-abal agar setara dengan minoritas.

Tugas utama gereja bukan hanya membawa orang ke surga, tapi membuat banyak orang merasakan surga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar